Selamat Datang di Website Resmi SMA Negeri 1 Padang Panjang. Religius, Berdaya Saing Global dan Cinta Lingkungan.
Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 810311 visitors
  Hits : 765 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

firdaus.asri@yahoo.com    
Agenda
06 December 2020
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

KONSEP KRITIK YANG IDEAL BAGI SENI INDONESIA

Tanggal : 07-04-2017 11:12, dibaca 7259 kali.

PENDAHULUAN

Kritik seni merupakan sebuah dasar pengetahuan  dan teknis penilaian terhadap suatu hasil karya seni. Kritik seni juga merupakan kegiatan individu-individu terhadap suatu karya dalam memahami dan mengamati  untuk memberikan penilaian atau apresiasi terhadap karya yang dianalisis. Penilaian kritik seni merupakan ilmu pengetahuan atas kumpulan kumpulan analisa dari suatu karya, pada dasarnya bersumber dari pengamatan dilapangan, karena kegiatan ini merupakan aktifitas dari pelaku dan pengamat seni. Sebagaimana yang dikemukakan oleh C. J. Ducasse ada tiga aktifitas manusia dalam kehidupan seni:  “Pertama aktivitas kreasi seni, kedua, aktivitas penghayatan atau kontemplasi estetik, dan yang ketiga adalah aktivitas kritik seni.[1]

Pemahaman dan penikmatan dari suatu hasil karya seni merupakan salah satu kegiatan kritik seni, karena kritik seni mengkaji karya seni dengan rinci serta apresiatif dan argumentative dalam menginterpretasi karya. Pernyataan baik atau buruknya suatu karya yang menjadi evaluasi untuk memperoleh nilai sebagai sebuah pernyataan bagaimana kedudukan dari karya yang dianalisis.

Istilah kritik seni dalam bahasa Indonesia sering juga disebut dengan istilah “ulas seni”,”kupas seni”, “bahas seni”atau “ bincang seni”. bagi sebagian orang sering berkonotasi negatif yang berarti kecaman, celaan, gugatan, hujatan dan lain-lain (kamus Purwadarminta). Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan, kata critic adalah kata benda yang berarti pengecam, pengkritik, pengupas dan pembahas (Jhon M. Echols dan hasan Shadily, 1984:155).[2]

Ulasan diatas dapat diuraikan bahwa kritik adalah penyampaian pendapat dari beberapa alasan tertentu, baik dari segi nilai pesan yang disampaikan, estetika dari karya yang dianalisis atau teknik dari karya. Pemberian penilaian yang tajam terhadap karya dari evaluasi yang dilakukan dapat menghasilkan nilai estetika dari karakter suatu karya, artinya bahwa seorang kritikus bisa saja sebagai seorang seniman, karena proses kreatif yang dilakukan juga menghasilkan karya tulisan yang mengungkap makna dari suatu karya. Kegiatan atau tindakan kritik pada kehidupan sehari-hari mempunyai dampak positif terhadap yang dikritik, bisa bersifat positif maupun negative, artinya bisa menguntungkan dan bisa merugikan bagi yang dikritik.

Proses kritik bisa dikatakan sebuah pengupasan atau pengulasan secara ilmiah. Menurut Nooryan bahari tujuan kritik seni adalah “memahami karya seni, dan ingin menemukan suatu cara untuk mengetahui apa yang melatar belakangi suatu hasil karya yang dihasilkan, serta memahami apa yang disampaikan oleh pembuatnya.[3] Artinya bahwa seorang kritikus harus memahami dalam memberikan penjelasan  analisis dari karya sangat menentukan, karena pemahan kritikus terhadap karya seni sangat menentukan tingkat apresiasi dari masyarakat dalam menerima hasil analisis karya.

Interpretasi  kritikus  harus berbeda dari interpretasi kebanyakan dari beberapa pengamat atau masyarakat kebanyakan, karena keahlian dari seorang kritikus merupakan syarat   tertentu, hal ini  sangat tergantung sekali karena konteks dari karya mengandung nilai tertentu dan dapat meyakinkan pembaca atau masyarakat kebanyakan. Interpretasi kritikus yang ideal seharusnya berdasarkan dari pengalaman akademik atau pendidikan formal yang dianut seoarang kritikus, karena menyangkut pengetahuan tentang seni sebagaimana seni lahir dan berkembang sejajar dengan perkembangan manusia selaku sebagai seorang penggubah atau pencipta karya, juga memahami tentang perkembangan kesenian dan sejarah kebudayaan.

Pengalaman dalam menghayati, memahami, secara detail dari orisinalitas  karya yang dianalisis seorang kritikus sangat dituntut, hal ini bisa dari karya-karya terdahulu yang telah diciptakan oleh seniman-seniman sebelumnya, bisa juga dari hasil pengamatan dari beberapa pameran dan studio-studio para seniman. Pengamatan yang dilakukan juga tidak terlepas kemungkinannya dari gaya seorang pencipta karya harus dikuasai. Fungsi dan opini seniman serta memahami konteks social yang melatar belakanginya. Faktor teknik artistic dalam berbagai macam media yang digunakan harus difahamai, bagaimana merekap dari karya yang dianalisis, faktor penyebabnya menjadi sebuah konsep atau gagasan. Proses penciptaan karya  juga menjadi  bahan kritik dari seorang kritukus agar mampu melihat kekurangan dan kelebihan dari karya yang diciptakan seniman.  

Kelebihan dan kekurangan dari karya yang diciptakan seniman adalah bahan bagi seorang kritikus dalam menganalisis. Kritik yang dilakukan atau dianalisis salah satunya bisa melalui kritik ilmiah atau kritik akademik, kritik ilmiah mempunyai cakupan yang sangat luas, karena kajian seninya secara universal tetapi mendalam dan terstruktur. Metode kritik ini bisa dipertanggungjawabkan secara akademisi dan estetik, melalui kepekaan yang jeli dan luas serta total.

Kritik ilmiah yang dilakukan dapat mengangkat nama seseorang kepermukaan apabila karya yang diciptakan memberikan muatan atau mengandung makna-makna yang tersembunyi, tetapi mampu memberikan interaksi komunikatif terhadap pengamat atau penikmat seni, berdasarkan kerja kreatif yang dilakukan membawa perubahan kearah yang lebih baik atau inovatif. Pekerjaan kreatif yang inovatif membawa dampak yang positif terhadap penikmat ketika penilaian dari analisis yang dilakukan mempunyai kontribusi terhadap penikmat seni maupun pengamat. Hal ini sangat bersifat netral dan adil dalam mencari kebenaran nilai dalam seni dan tidak berpihak terhadap konsep seni yang lain. Sebaliknya seorang seniman pencipta karya juga bisa memberikan efek negative terhadap apa yang diciptakan, ketika proses kreatif yang inovatif tidak ada pada karya yang diciptakan. Kritik seni ilmiah ini tidak bersifat mutlak, terbuka kemungkinan bagi tipe kritik yang lain. penyempurnaan dalam mencari nilai suatu hasil karya seni adalah hal yang wajar demi hasil kritik yang ilmiah yang ideal.

PEMBAHASAN

Senada dengan uraian pada pendahuluan di atas,  bahwa sebuah kritik yang ideal bisa dari ungkapan seniman yang dieksplorasi menjadi sebuah karya  melalui fenomena-fenomena yang terjadi, ataupun mempunyai tujuan-tujuan tertentu baik itu menyangkut tentang sosial, budaya, politik maupun protes terhadap hal-hal yang seharusnya mempunyai kontribusi kepada pencipta karya, pengamat maupun kepada publik.  Salah satu bentuk karya yang mempunyai tujuan tertentu dapat kita amati pada karya Basuki Abdullah yang berjudul “ Keluarga Berencana.

INTERPRETASI MAKNA PADA KARYA BASUKI ABDULLAH SALAH SATU CONTOH KONSEP KRITIK YANG IDEAL BAGI SENI INDONESIA

Pada lukisan yang berjudul ”Keluarga Berencana” di atas dapat diamati cara Basuki Abdullah memvisualisasikan keluarga berencana menjadi sebuah metafor kuda, bukan kuda sebagai kuda. Gagasan  yang ia rasakan ketika mengamati objek yang menjadi rangsang cipta dari fenomena-fenomena yang terjadi.  Usaha untuk mewujudkan suasana yang hendak ia sampaikan.

            Kehadiran karya seni, tidak terlepas dari faktor internal dan   eksternal. Faktor internal adalah dorongan yang datang dari dalam, seperti adanya dorongan dan keinginan yang kuat dari hati nurani untuk mewujudkan sebuah karya seni, sesuai dengan ilmu dan pengalaman estetik. Faktor eksternal merupakan hasil pengamatan terhadap alam, adanya kesamaan,  fenomena sosial, politik, agama dan budaya, yang kemudian menjadi sumber ide dalam penciptaan karya seni. Ekspresi individual lahir dari pergulatan bernegosiasi dengan berbagai pengaruh dari luar diri, mengolah elemen–elemen eksternal menjadi bahasa personal. Para seniman  berusaha membuat bahasa mereka masing-masing, penuh dengan tanda dan narasi-narasi yang membentuk metafora-metafora dengan sendirinya.  Kedua faktor tersebut, merupakan sebuah rangkaian dari proses yang bersifat analistis, sehingga timbul dorongan untuk mewujudkan ide dan konsep ke dalam sebuah karya seni, dorongan-dorongan itu akan menjadi inspirasi dari awal penciptaan sebuah karya. Hasil sebuah karya seni yang tercipta dari fenomena-fenomena bisa dianalisis melalui pendekatan semiotika Roland Bartes.

a.  Denotasi

Objek

Objek pada lukisan karya Basuki Abdullah yang berjudul ”keluarga berencana” menampilkan objek  kuda. Tiga ekor kuda pada gambar dapat dilihat melakuka interaksi antara kuda hitam dengan tingkahnya yang    mengangkat kaki depan, seolah-olah memberikan komando dengan bahasa tubuh atau gerak yang dilakukan, Gerakan tersebut  mendapat respon dari kuda putih dan kuda coklat. Pada gambar terdapat padang rumput yang luas

Warna

Warna yang ditampilkan pada lukisan ini sangat harmonis sekali. Perpaduan warna-warna  lembut yang sangat serasi membuat permainan garis-garis yang dinamis dari warna yang dominan kuning lembut, coklat muda, putih, sampai kepada coklat tua kehitaman, permainan warna ini menjadi kompleksitas dari kontemplasinya Basuki Abdullah.

b. Konotasi

Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti. Ia menciptakan makna-makna lapis kedua. Penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis, seperti perasaan, emosi, atau keyakinan. Konotasi  dapat menghasilkan makna lapis kedua yang bersipat implisit, tersembunyi, yang disebut makna  (connotative meaning )[1]

”Keluarga Berencana” pada lukisan karya Basuki Abdullah memvisualisasikan keluarga berencana menjadi sebuah metafora kuda, bukan kuda sebagai kuda. Gagasan  yang ia rasakan ketika mengamati objek yang menjadi rangsang cipta dari fenomena-fenomena yang terjadi.  Usaha untuk mewujudkan suasana yang hendak ia sampaikan.

Objek kuda pada lukisan ”keluarga berencana” bukan kuda sebagai kuda, tetapi  kuda sebagai simbol manusia. Pada lukisan tersebut dapat dilihat interaksi antara bapak dan ibu serta seorang anak.Makna yang terkandung, dimana seorang ayah menanamkan nilai-nilai demokrasi, musyawarah dalam suatu permasalahan untuk mencapai kata mufakat dalam sebuah keluarga.

Dalam hal ini, simbol yang ditampilkan pada lukisan karya Basuki Abdullah sebagaimana simbol menurut Goodenough yaitu ”simbol termasuk ke dalam kategori konotatif, referensi yang hanya bersifat ilmiah tidak bisa diterima, kekuatan simbol justru pada emotifnya yang dapat merangsang orang untuk  bertindak”[2].  Secara implisit  antara metafora dengan simbol mempunyai kaitan yang sangat erat.

Berdasarkan lukisan karya Basuki Abdullah dapat  dipahami bahwa keluarga berencana, merupakan perencanaan dalam berumah tangga yang menjadi rangsang cipta bagi Basuki Abdullah untuk menciptakan sebuah karya. Oleh karena permasalahan ekonomi, pendidikan, dan pertumbuhan penduduk yang semakin padat, lapangan kerja yang semakin sulit. Hal ini merupakan kekhawatiran dari pemikiran Basuki Abdullah yang dituangkan dan dieksplorasi melalui media, dengan menampilkan warna kuning yang dominan, “warna kuning adalah warna cerah karena itu sering dilambangkan sebagai kesenangan atau kelincahan, kuning adalah lambang intelektual”[3]. Warna kuning adalah warna yang paling cerah selain putih, kuning mempunyai makna kemuliaan cinta serta pengertian yang mendalam antara hubungan manusia.

 Program keluarga berencana melalui generasi muda yang berencana merupakan hasil dari implementasi rangsang cipta Basuki Abdullah. Objek kuda menjadi simbol presentasional. Melalui karya lukis, manusia dapat berinteraksi dengan simbol-simbol dan warna-warna serta garis-garis yang dinamis, sehingga tercipta suatu kesatuan, intensitas, dan kompleksitas, yang di dalamnya terdapat bahasa verbal  dan non verbal berdasarkan interpretasi personal, baik itu mitos dari pesan yang disampaikan, baik sifatnya religi, budaya, kesenian dan ilmu pengetahuan. Artinya bahwa karya seni lukis merupakan bahasa visual yang mempunyai interaksi komunikasi yang sinkronik.

Roland Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobley & Jansz, 1999) sebagai berikut[4]:

1.      Signifier (penanda)

Lukisan (keluarga berencana)

2.      Signified (petanda)

Makna yang terkandung pada lukisan

 

3.      Denotative sign (penanda)

Objek tiga ekor kuda, warna hitam, coklat dan putih berdiri di tengah padang rumput, suasana lukisan sore, dominan warna kuning.

 

4.      CONNOTATTIVE SIGNIFIER

(Penanda Konotatif)

Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak yang sedang musyawarah sebagai objek (symbol) pada lukisan Basuki Abdullah

 

5.      CONNOTATIVE SIGNIFIED

(Petanda konotatif)

Satu keluarga yang sedang musywarah, merencanakan program untuk masa yang akan datang, baik dari segi ekonomi, sosial,  budaya, religi, pendidikan dan lain sebagainya.

 

6.      CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIVE)

Lukisan yang berjudul “keluarga berencana”, dengan tiga ekor kuda sebagai objek dengan tampilan warna yang sangat harmonis menjadi sebuah tanda bahwa keluarga berencana penuh dengan program, karena dalam merancang program butuh ilmu, dan juga aplikasi dari program yang direncanakan tidak terlepas dari ekonomi sebagai acuan pokok dalam menjalani sebuah kehidupan,  sebagaimana yang telah diprogramkan oleh pemerintah melalui genre (generasi berencana) dengan menampilkan iklan baik itu poster maupun media audio visual atau media elektronik. Gerakan berencana ditujukan kepada pemuda atau remaja sebagaimana layaknya remaja merupakan sasaran yang paling utama dalam menjalani gerakan berencana, gerakan berencana ini merambah ke dunia pendidikan lebih dijelaskan kepada siswa, tentang reproduksi remaja, akibat pergaulan bebas dan efek kawin muda.   

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interpretasi makna atau analisis terhadap lukisan Basuki Abdullah berdasarkan pendekatan Roland Barthes intinya bahwa sebuah lukisan adalah merupakan objek yang menggambarkan atau mewakili realita yang bersifat material (seni lukis), dan merupakan realitas refrensi dari tanda ( ia menjadi ikon dari  sebuah realita). Arti dari interpretasi makna dari karya lukis Basuki Abdullah bisa dilihat dari kode pada objek lukisan kuda sebagai simbol manusia, ada ayah, ibu dan seorang anak, ini menandakan sebuah keluarga. Hal ini dapat juga dilihat adanya sinyal, yaitu objek kuda sebagai simbol manusia  memberikan isarat bahwa objek pada lukisan tersebut sedang musyawarah yang menjadi petanda, artinya makna yang terkadung adalah untuk mencari kata mufakat dari musyawarah tersebut. Jadi elemen-elemen bentuk yang dihadirkan menjadi suatu kombinasi yang sangat total (kompleksitas, intensitas, kesatuan) sehingga menjadi sebuah tanda dari penanda dan petanda.

PENUTUP

Kritik seni adalah salah satu usaha dalam mengupas seni atau menganalisis sebuah karya. Kritik bagi sebagian orang menganggap sesuatu yang buruk, padahal kritik mempunyai pengertian dan memberikan kita pemahaman terhadap analisis dari sebuah karya seni. Hasil analisis lebih membuat kita sebagai pengamat maupun sebagai penikmat menjadi terangsang akan makna yang terkandung pada karya cipta, yang merupakan pekerjaan kreatif yang dilakukan oleh seniman-seniman yag inten terhadap fenomena-fenomena yang terjadi sebagai rangsang cipta untuk  menjadi sebuah idea tau gagasan dan dieksplorasi menjadi sebuah karya.

Karya cipta sebagai bentuk kritik ataupun analisis dari pengamat atau kritikus menjadi sebuah kritikan terhadap pencipta karya. Semuanya mempunyai respon yang timbal balik, karena mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Makna yang terkandung pada karya  rupa yang dikritisi bersifat singkronik, karena bisa dianalisis dari berbagai macam hal, baik itu dari segi bidang, warna, maupun objek yang disajikan oleh seniman. Oleh karena itu kritik seni berfungsi sebagai jembatan antara karya seni dan penikmatnya.

KEPUSTAKAAN

Acep Iwan Saidi “ Narasi Simbolik seni rupa Kontemporer Indonesia”ISACBOOK,2008
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, PT. REMAJA ROSDA KARYA. 2006
Dwi Maryanto M, Menempa Quanta Mengurai Seni, ISI Yogyakarta 2011
Dwi Maryanto M, Seni Kritik  Seni, ISI Yogyakarta 2002
Nooryan Bahari, “Kritik Seni”,wacana apresiasi dan kreasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008)
Sem C. Bangun, Kritik Seni Rupa, ITB Bandung, 2000
Sulasmi Darma Prawira WA.”Warna teori dan kreativitas penggunannya edisi 2 ”ITB.2002
Yasraf Amir Piliang ”Hipesemiotika Tafsir cultural studies atas matinya Makna” Bandung:Jalasutra..2010


Pengirim : Iskandar Makhdoni, S.Pd, M.Sn
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas