Selamat Datang di Website Resmi SMA Negeri 1 Padang Panjang. Religius, Berdaya Saing Global dan Cinta Lingkungan.
Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 823351 visitors
  Hits : 3223 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

firdaus.asri@yahoo.com    
Agenda
22 January 2021
M
S
S
R
K
J
S
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6

CERPEN

Tanggal : 24-05-2016 08:21, dibaca 647 kali.

GESTI

Perempuan itu duduk di bangku paling belakang. Ia selalu termenung bagai memikirkan sesuatu. Aaah, kurasa bukan bermenung. Mulutnya komat – komit dan tangannya seolah berhitung. Ia sedang berdzikir. Aku selalu heran pada perempuan – perempuan salehah. Mereka selalu punya aura luar biasa yang memancar dari wajah mereka. Aura dari ibadah mereka pastinya. Perempuan itu juga. Ia memberikan kesan tak terlupakan padaku sejak pertama kali melihatnya.

Perempuan itu berpenampilan seperti perempuan salehah kebanyakan. Rok panjang yang lebar sampai ke mata kaki. Jilbab lebar dan panjang khas perempuan salehah. Memakai sepatu tetapi tidak menutupi semua kakinya sehingga ia memakai kaus kaki untuk menutupi auratnya yang sebagian itu. Oh ya, tak lupa dengan manset tangan untuk menutupi sebagian aurat di tangannya. Sederhana memang, tetapi mampu memancarkan sinar kesalehan yang tidak biasa bagiku.

Aku selalu ingat dengan perkataan mentor imtaqku. Tak pernah kulupakan yang satu ini. Pandangan pertamamu itulah nikmat. Pandangan keduamu jadilah laknat. Tapi, apakah memandang wajah perempuan salehah juga merupakan sebuah dosa? Bukankah dari indahnya jidat mereka telah terpampang jelas “Calon Penghuni Surga” membuat kita juga merasakan harum dari surga itu sendiri? Bibirnya yang anggun menyimpan selaksa doa dan dzikir membuat kita pun merasa dibawa oleh doa – doa itu. Matanya yang membiru dan memburu seolah tahu bahwa dunia ini adalah sebagian dari hidupmu, bukan hidupmu.

“Kiri bang,” ujarnya tiba – tiba. Ia kemudian turun dan membayar ongkos. Ia berjalan lembut seperti perempuan salehah lain. Tenang dan damai seolah merasa, tak ada yang perlu kau takutkan selain adzab Tuhan. Ia berjalan menyusuri jalan kecil ke sebuah pesantren. Ternyata bukan ke pesantren. Pada persimpangan sebelum pesantren ia berbelok ke arah komplek perumahan di belakang pesantren. Subhanallah, bukan anak pesantren tapi sangat salehah. Ayahnya pasti adalah seorang ustadz dan ibunya, perempuan yang sering kita lihat berjalan di pasar menggunakan jilbab hitam panjang ditambah dengan cadar yang menutupi mukanya. Iya, yang sering kalian sebut ninja atau lebih parah lagi istri teroris. Mereka bukan teroris. Mereka justru adalah muslim sejati. Mukmin lebih tepatnya. Manusia – manusia yang menjalankan Islam dengan hati.

Aku kembali mendapatinya duduk di angkot paling pojok. Memang, di kampung kami hanya ada satu terminal dengan dua jurusan. Jam ini juga merupakan waktunya anak sekolah pulang. Tapi, bagaimana kami bisa bertemu lagi di waktu yang sama, tempat yang sama dan suasana yang sama? Bukan kawanku. Ini bukan kebetulan. Ini salah satu rencana Tuhan yang telah dibuat – Nya bahkan sebelum kami diciptakan. Atau mungkin malah sebelum semesta ini diciptakan. Bukankah tidak ada satupun daun yang jatuh tanpa sepengetahuannya? Maka tidak ada satupun cinta yang tercipta tanpa rencananya.

Angkot sedang kosong. Hanya dia dan aku. Aku mengambil posisi yang paling pas dimana aku bisa memperhatikannya dengan sempurna. Tentu, aku memperhatikannya dari jauh. Ia sedang membaca Alquran. Atau mungkin sedang murajaah hafalan qurannya. Perempuan itu semakin cantik ketika ia membaca quran. Ia membuatku semakin terpaut pada keanggunannya yang maha. Wajahnya yang semakin jernih ketika ayat – ayat alquran meninggalkan dingin di bibirnya.

Aku mengalihkan pandanganku ketika ia sejenak berhenti membaca dan menoleh ke depan. Aku tak sanggup Ya Allah. Mengotori tatapannya yang bening dan suci dengan mataku yang telah sering berzina. Senyum yang murni  mengalir dari indah dari tatapannya tak dapat kugantikan. Entah apa yang akan kulakukan untuk mengganti nikmat Tuhan yang telah kau berikan padaku.

Sekalipun aku tak pernah menatap matanya langsung dengan kedua mataku. Apalagi berbicara padanya. Tetapi kami tetap saling mencinta. Cinta kami adalah cinta yang sepi tanpa interaksi. Dan aku tetap percaya Tuhan juga telah menyalakan api cinta di hatinya. Seperti puisi seorang penyair sufi yang dikagumi dunia, yaitu Jalaluddin Rumi. “Jika cahaya Cinta menerobos kalbu kita, artinya Cinta telah bersemayam di hati si dia. Suara tepukan tidak akan terdengar dari tangan yang bertepuk sebelah.” Aih, manis sekali. Semanis gula.

Yang membuat perempuan ini menarik sebenarnya bukanlah karena wajahnya. Tetapi kebiasaannya yang memikat. Ia sering kuperhatikan seolah membuang muka keluar jendela angkot. Ia seolah tak peduli dengan yang ada di sekelilingnya. Seolah ia tidak berada disini. Seperti perempuan salehah lainnya, raganya mungkin berada di bumi tetapi hatinya telah terpaut indah di surga.

Sudah sepuluh hari aku selalu di angkot yang  sama dengannya. Aku sengaja pulang cepat dari sekolah. Bel pulang belum berbunyi tetapi aku sudah bersiap – siap memasukkan semua barang ke dalam tas. Aku segera berlari terminal angkot yang kebetulan dekat sekolahku itu. Jika ia belum datang, aku berdiri di luar angkot menunggu kehadirannya. Ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Karena, ketika menunggunya dadaku panas dan jantungku berdetak kencang. Aku rasa angin cinta telah mengisi rongga dadaku. Angin itu mengalir dari atas ke bawah menuju tulang rusukku. Angin itu ingin memberikan ruang pada tulang rusuk yang satunya lagi yang akan datang.

Setelah beberapa lama ia masih belum datang. Aku heran kenapa perempuan salehah itu masih belum tiba. Biasanya jam segini, ia sudah duduk manis di dalam angkot atau jika ia belum datang ketika aku tiba, tak lama berselang ia akan datang. Tapi hari ini ia sangat terlambat

Akhirnya ia datang. Kedatangannya sungguh membuat dadaku sakit serasa ditusuk. Badanku gemetar, menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Aku seperti terkena petir di siang hari. Angin cinta yang tadi mengisi rongga dadaku mendadak hilang entah kemana. Darahku panas, menggelegak sampai ke ubun – ubun.

Perempuan salehah itu datang tidak berkerudung. Rambut bergerai hingga bahu. Baju yang membaluti tubuh menonjolkan bagian – bagian tubuh yang seharusnya tidak ia perlihatkan. Pahanya yang putih mulus bagai ubi dikupas bersih.  Aduuuh… setelan elegan wanita modern zaman ini. Perempuan itu datang dengan soerang lelaki yang jelas brengsek. Lelaki bajingan yang dengan mudah kita temui di tempat haram berlumuran dosa. Wujud setan sebenarnya.

Perempuan dan lelaki itu masuk tanpa menghiraukan keberadaanku. Mereka duduk di kursi paling pojok. Tempat di mana perempuan itu selalu duduk. Mereka bermesraan layaknya suami istri yang telah dihalalkan oleh Tuhan hubungan itu baginya. Lelaki itu menyentuh bibir dan menatap lekat – lekat mata perempuan itu yang bahkan tak sanggup kulihat.

Aku diam tak berkutik. Lalu dengan bimbang aku kemudian masuk dan mencari posisi dimana aku tidak bisa melihat mereka. Hatiku menggelegar dan sangat panas. Tetapi tidak bisa untuk tidak melihat mereka. Mataku tetap berusaha mengintip. Ternyata mataku telah berusaha melawanku. Aku pun menutup mata dengan jari – jariku. Tetapi jari – jariku pun cemburu dan berusaha untuk membuatku melihat mereka.

Angkot itu akhirnya penuh. Aku berharap semoga kerumunan orang dapat mengalihkan pandanganku dari mereka. Lalu angkot itu berlari kencang. Tapi bagiku itu tetap terasa lambat. Waktu terasa melambat bagiku. Suasana angkot dipenuhi dengan ocehan berbagai orang. Tetapi bagiku di angkot itu hanya terdengar suara mereka berdua. Kepalaku menjadi panas serasa akan pecah.

Persimpangan dekat pesantren yang biasa menjadi tempat turun perempuan itu terlalui. Mereka tidak turun disini. Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan. Angkot tetap melaju kencang. Lalu akhirnya di sebuah tempat yang sudah jadi rahasia publik merupakan lokasi WTS kelas teri dan diskotik kampung, perempuan dan lelaki itu turun di dekat itu. Aku pun ikut turun. Hatiku panas ingin memukul lelaki itu. Aku mencoba untuk istighfar untuk menenangkan diriku. Tetapi perasaan panas itu muncul lagi dan lagi.

Aku membuntuti mereka berjalan berduaan. Sesekali kulihat lelaki itu sempat mengerayangi tubuh perempuan itu. Astaghfirullah. Aku mencoba untuk memalingkan penglihatanku. Aku memberanikan diri untuk mencegat mereka. Aku berlari menyusul mereka dan berdiri mencegat di depannya. Perempuan itu bingung. Jelas sekali ia tidak mengenalku. Lelaki itu juga bingung bercampur marah.

 “Assalamu’alaikum, Gesti,” ujarku dan berlalu.

 



Pengirim : crew Lintang Birru
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : EllFloT -  [ellplelry@daff.pw]  Tanggal : 03/12/2019
Zithromax Official Website <a href=http://cialibuy.com>canadian pharmacy cialis 20mg</a> Amoxicillin And Appetite


   Kembali ke Atas