Selamat Datang di Website Resmi SMA Negeri 1 Padang Panjang. Religius, Berdaya Saing Global dan Cinta Lingkungan.
Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 823353 visitors
  Hits : 3232 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

firdaus.asri@yahoo.com    
Agenda
22 January 2021
M
S
S
R
K
J
S
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6

CERPEN

Tanggal : 24-05-2016 08:21, dibaca 722 kali.

DIBUNGKUS RAPI DALAM CARANO

Dunia yang mahaluas ini selalu punya misteri tersendiri yang bahkan malaikat tak tahu. Langit yang tak berujung selalu punya sisi gelap yang lembar demi lembarnya memancarkan hawa dingin mencekam membuat beruang Alaska lari terbirit – birit olehnya. Jika kita telusuri lautan yang maha dahsyat ini, jauh di timur sana di balik karang – karang kita akan menemukan sebuah komunitas, yang bahkan tak tahu apa itu tata karma, nelayan – nelayan sering menggigil menyebut nama mereka, bajak laut Karibia —— Pirate of Carribians. Semua kegilaan —— membunuh, merampok, bahkan tak jarang mereka menganiaya orang hidup demi kesenangan —— sering mereka lakukan sehingga mereka ditakuti dan sering dihindari oleh nelayan yang melewati daerah sana untuk keselamatan mereka. Kegilaan ini bagai kabut luas yang susah untuk ditembus akal sehat manusia. Manusia biasa takkan bisa mencoba kegilaan ini. Jika manusia biasa mencoba menghirup dan menghembuskan kabut ini, dalam waktu 3 menit mereka mengalami epilepsi lalu secara perlahan nyawa mereka akan ditarik oleh malaikat maut.

Tanpa harus melewati ganasnya Lautan Karibia disini aku dapat menemukan kabut itu terpancar di sebuah mata, kabut itu berputar dengan kecepatan stabil dan sesekali melakukan ledakan – ledakan kecil. Kabut itu sekarang bersemayam dalam tubuh teman masa kecilku Hamdan. Hamdan lelaki ramah bermata jelita yang selalu punya seribu alasan mengapa kita harus  mensyukuri hidup. Tubuhnya jangkung, giginya berantakan, kulitnya coklat —— terbakar matahari —— dan sisiran rambutnya selalu rapi mengkilap disisir dengan minyak kemiri cap anak kembar atau kadang minyak goreng curah bekas ikan asin yang digoreng ibunya sebagai sarapan pagi. Jadi jika pagi hari Hamdan bau ikan asin, dipastikan minyak kemirinya habis dan jatah uang sakun bulanannya sudah habis. Secara keseluruhan Hamdan mirip dengan pegawai kelurahan golongan rendah yang sudah puluhan tahun ingin naik pangkat tapi masih belum bisa terlaksana, lantaran ijazah yang hanya sampai SMP. Layaknya pemuda minang biasa, Hamdan selalu punya rutinitas, bangun,shalat subuh, mandi, sekolah, menolong ayahnya di ladang atau membantu ibunya dirumah, mengaji sesudah maghrib, lalu tidur, sesekali pergi ke lapau itupun jika ia punya uang saku lebih. Hamdan pemuda biasa yang kukenal pendiam, rajin mengaji dan selalu mengerjakan Dasa Darma Pramuka ini, tanpa di duga dirasuki kabut gila itu. Seperti hari ini, kegilaannya kembali terjadi.

Jam pelajaran terakhir ini Bahasa Indonesia. Buk Yuni telah memasuki kelas. Seperti biasa, beliau mengajar dengan semangat berapi - api. Semua murid, jika dia masih waras tentunya, pasti akan antusias menyimak pelajaran dari Buk Yuni. Terkecuali Hamdan. Sejak Buk Yuni masuk kelas tadi kuperhatikan, tatapannya tak pernah lepas dari Yuvia. Memang sudah lama, diam - diam Hamdan jatuh cinta padanya. Tapi tak pernah kutahu, dia benar - benar sudah mengalami kegilaan seperti ini

"Di tepi kali menanam pandan. Elok dipadu dengan pepaya. Lalu disiram dengan air kali. Wahai Hamdan Ihsanul Ramadhan. Tak ada guna kau tatap Yuvia. Elok kau tatap ibuk kemari," kata Buk Yuni dengan tiba - tiba, sembari melotot pada Hamdan.

Lalu seisi kelas tertawa sejadi - jadinya mendengar pantun Buk Yuni. Muka Hamdan memerah. Tak terkecuali Yuvia. Lalu menundukkan kepalanya kebawah meja. "Dari tadi kau perhatikan dia, kau kira si Yuvia itu yang akan keluar di ujian, hah? Perhatikan kedepan! Lulus ujian nanti kau pinanglah dia" kata Buk Yuni dengan keras. Tawa seisi kelas kembali meledak. Madin, yang duduk di depanku bahkan terkekeh - kekeh selama 5 menit sambil memegangi perutnya.

Buk Yuni memang guru yang keras. Tak jarang dia menghardik siswa karena menunduk saat beliau mengajar. Tapi, bukannya malu atau marah karena dihardik Buk Yuni atau di tertawakan, Hamdan malah tersenyum senang. Dari kejadian ini kusimpulkan, bahwa berlama - lama memendam cinta dapat menyebabkan sakit jiwa.

                                                                           ***

Ketika bel pulang berbunyi, aku segera pulang ke rumah. Karena jarak rumahku dengan sekolah hanya 300 meter, maka aku hanya jalan kaki. Tiba - tiba dari jauh kudengar ada yang memanggil namaku

" Hana... Hana...," seru orang itu.

Setelah kuperhatikan baik - baik ternyata itu Hamdan. Aku berhenti.

"Tunggu," dengusnya.

Ia membungkuk, keringatnya bersimbah, dadanya kembang kempis. Lalu ia tegak lagi, bertelakan pinggang sambil mengatur napas.

"Mengapa kau meninggalkanku?" ujarnya.

"Bukankah kau biasanya hari ini ikut ekskul musik?" aku balik bertanya.

"Yuvia libur, maka aku libur juga," katanya sambil tersenyum memamerkan giginya yang kuning. Aku cuma geleng - geleng kepala melihat kelakuan temanku ini.

Lalu kami pulang bersama. Ditengah jalan, tak henti - hentinya ia bercerita tentang Yuvia. Berkali - kali ia mengatakan cantik, baik, lembut, rendah hati. Ingin rasanya aku melemparnya dengan batu. "Dan, ku beritahukan padamu, Yuvia tak seperti yang kau bayangkan" kata ku mengingatkan. Maka Hamdan dengan wajah memerah sambil bersungut - sungut, memberi khotbahnya yang membuatku bungkam.

Muqaddimah : "Kau tak tahu apa - apa soal cinta kecuali kau pernah pacaran atau jatuh cinta?"

Aku mengeleng.

Latar belakang masalah : "Pernahkah kau jatuh cinta pada seorang lelaki sampai kau tak bisa makan karna memikirkannya?"

Aku kembali menggeleng

Kesimpulan : "Jangan pernah lagi kau berkomentar tentang Yuvia, jika kau belum pernah jatuh cinta.”

Rekomendasi : "Sebaiknya kau mencari pacar atau mencoba untuk jatuh cinta atau kau mau jadi perawan tua."

Faktabiru ya ulil absha la'allakumturhamun.

 

***

Semakin hari Hamdan semakin gila. Ia tak mau mencatat pelajaran sebelum Yuvia selesai mencatat. Alasan nya masih sama. Ia ingin menatap wajah Yuvia menulis. Ia tak mau keluar kelas sebelum Yuvia keluar kelas. Jadi seolah - olah dia adalah bodyguard Yuvia. Jika Yuvia tak membawa buku pelajaran, Hamdan lebih memilih meminjamkannya pada Yuvia daripada dia pakai sendiri.

Jadi seolah - olah Yuvia adalah poros hidupnya. Aku mulai merasa hati Hamdan sudah terkunci, dan kuncinya berada di tangan Yuvia. Pernah sekai aku bertanya pada Hamdan , kenapa ia tetap mencoba mendekati Yuvia, sedangkan Yuvia sendiri tak pernah mengacuhkannya. Lalu ia menceramahiku dengan konsep cintanya yang sama sekali tidak masuk akal.

"Yuvia itu ibarat gunung. Ketika kau berusaha menghancurkannya, kau kira gunung itu akan hancur seketika? Tidak! Dia akan luluh ketika kau sedikit demi sedikit melakukan serangan padanya," katanya optimis.

Ingin ku mengatakan, sikap Yuvia sama sekali bukan sikap simpati. Tapi lebih ke meremehkan Hamdan. Walau aku tak dekat dengan Yuvia, tapi dari sorot matanya saja kutahu, Yuvia sebenarnya benci sekali didekati Hamdan. Tapi, tak usahlah kukatakan pendapat ku pada Hamdan. Tak sampai hati aku membuat sobat karibku ini kecewa.

 

***

Hari ini kembali aku diberi Hamdan, kertas kecil. Aku tahu pasti apa isi kertas itu. Surat cinta untuk Yuvia. Sejak pertama melihatnya waktu hari pendaftaran SMA Hamdan telah jatuh hati pada Yuvia dan sejak itu dia telah mengirimi Yuvia beratus - ratus surat. Tak satupun dibalas oleh Yuvia. Tak terhitung puisi, syair, gurindam, bahkan kado, mulai dari jepit rambut sampai boneka. Berbagai cara telah ia coba untuk membuat gadis judes itu tersanjung. Bahkan sering kali Hamdan mengajak ku berdiskusi soal syair - syair atau puisi yang akan dikirimnya pada Yuvia. Sebelum memberikan surat pada Yuvia, acap kali Hamdan menyuruhku mengoreksi. Apa ada kata yang salah, atau mungkin bisa menyinggung hati seorang wanita. Namun tidak untuk kali ini. Dengan wajah serius, alis bertemu, Hamdan berkata padaku.

"Kumohon, Na. Jangan sampai kau baca surat itu. Tak perlu kau bicara padanya saat memberi surat. Cukup surat ini yang bicara padanya" susah payah aku menahan tawa melihat wajah seriusnya.

"Tak perlu kau risaukan, Dan. Kau percaya saja padaku" kataku sambil berkedip. Barulah hilang kecemasan dari wajahnya.

Seusai istirahat, kuberikan kertas itu pada Yuvia. Kuberikan begitu saja tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia pun diam saja tanpa bereaksi apapun. Lalu aku segera ke tempat duduk ku tak mengacuhkannya. Namun, aku penasaran. Apa kira - kira isi surat itu.


***

Seminggu berselang, dan tiba - tiba aku dilanda keheranan. Bagaimana bisa sobat karibku itu berubah menjadi ganteng begitu. Kucari informasi kemana - kemana tapi tak ada yang tahu.  Hal lain yang membuatku heran adalah, kebiasaannya menatap Yuvia, hilang secara tiba - tiba. Ia tak lagi memperhatikan Yuvia setiap pelajaran. Ekspresi wajahnya selalu seperti Haji Sulam baru mendapat hadiah naik haji, senang tak berperi. Berada di dekatnya, jiwa menjadi tenang. Karena setiap bagian tubuhnya memancarkan energi positif yang membuat kucing pun jadi gembira. Tak seorang pun yang tidak senyum manis dahulu ketika berpapasan dengannya.

Aku sangat heran, sesuatu seperti apa yang merasuki sobat karibku ini. Namun semua terjawab ketika kami pulang bersama. Di tengah jalan, Hamdan memperlihatkan sebuah kertas dengan terkekeh - kekeh. Kuperhatikan kertas itu sepertinya adalah surat yang kuberikan pada Yuvia, minggu lalu. Kubuka dengan cepat surat itu. Di bagian atas kertas itu terdapat tulisan Hamdan yang cakar ayam. Kira - kira isi tulisannya adalah Hamdan suka sekali pada Yuvia dan dia tersiksa sekali dengan perasaan itu. Maka dia berharap Yuvia mau membalas peraasannya. Konyol sekali. Susah payah aku menahan tawa, membaca tulisan Hamdan.

Lalu kubaca kata bagian bawah yaitu balasan dari Yuvia. Sungguh tak percaya aku membacanya. Disana jelas tertulis Yuvia juga menyukai Hamdan. Tapi dengan suatu syarat yang membuat ku curiga.Yaitu, Hamdan harus merahasiakan hal ini pada semua orang. Lalu dia harus berhenti menganggu Yuvia dengan tindakan bodohnya.

Aku ternganga tak percaya. Bagaimana mungkin, Yuvia yang judes itu menerima Hamdan begitu saja. Lalu aku menatap Hamdan. Seolah membaca pikiran ku, Hamdan pun tersenyum mengangguk padaku. Walau curiga pada balasan dari Yuvia aku tetap memberi selamat padanya, agar dia senang.


***

Hari ini muka Hamdan masih tetap berseri - seri seperti kemarin. Bahkan ketika guru mengajar Hamdan sering terkekeh tanpa alasan yang jelas. Semangat hidupnya meluap. Sepertinya kunci di hatinya telah dibuka oleh oleh Yuvia.

Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Hamdan disuruh oleh Buk Yuni membaca puisi ke depan kelas. Hamdan memang berbakat membaca puisi, sering menjuarai lomba tingkat kecamatan. Tetapi karena pengaruh Yuvia, Hamdan lebih memilih masuk klub musik daripada masuk klub puisi.

Hamdan mulai membaca puisi. Semua tercenung, diam terpaku. Apapun yang dikerjakan terhenti, yang di pegang dilepas. Karena setiap lekuk syair yang dilantunkan nya adalah jerit dari hatinya. Kuamati Hamdan yang sedang membaca puisi dan aku berpikir, ia jadi tampan sesungguhnya bukan karena anatomis wajahnya berubah, melainkan ada aura lain memancar dari dalam dirinya. Aura yang dapat membuat siapapun tampak lebih rupawan. Kurasa itulah cahaya cinta

***

Jam kedelapan aku pergi ke toilet. Ya Tuhan, perutku terasa melilit. Kram perut yang biasa mendatangi saat datang bulan seperti ini benar - benar membuatku sangat menderita. Aku menatap diriku di cermin. Jeleknya wajahku saat aku meringis menahan sakit sambil mengelus - elus perutku yang kacau. Lalu aku masuk ke salah satu bilik. Toilet memang sepi saat jam pelajaran. Untung saja Pak Isman guru biologi sedang absen. Aku duduk di atas kloset sambil menggosok - gosok perutku.

"Braaaaak.....!!" pintu toilet dibuka keras. Aku mendengar suara berdebam membentur tembok. Lalu suara pintu ditutup kembali dengan keras. Spontan aku mengangkat kakiku. Suara langkah kaki dua orang memasuki toilet. Salah satu dari mereka mengecek bilik toilet satu persatu dari bawah pintu. Aku benar - benar baru bisa bernafas saat salah satu dari mereka berkata

"Aman!"
"Sukses besar, May! Si Hamdan itu sudah tidak dekat - dekat denganku lagi," aku tercekat. Jelas sekali itu suara Yuvia. Apa maksud dari perkataannya.

"Benarkan kataku? Kau hanya perlu, pura - pura suka dengan nya. Si bodoh itu pasti akan percaya dan akan menuruti semua katamu!" suara kedua ini, mungkin suara Maya. Dia tidak sekelas dengan Yuvia, tapi Yuvia berteman baik dengannya.

"Hahahahaha...," terdengar suara licik Yuvia . "Hebat betul idemu ! Setelah menerima surat dariku dia sering senyum - senyum tak karuan. Namun berita baik nya, tentu saja, sekarang dia tak lagi mengangguku dengan aksi bodoh nya. Sekarang aku tak lagi perlu mendapat malu karena tingkahnya."

Kemudian mereka tertawa bersama - sama, lalu keluar sembari menutup pintu dengan keras. Saat suasana hening baru aku bisa keluar dari bilik toilet. Aku tak bisa berkata - kata. Mulut ku terkunci karena gemetar. Badanku merinding, keringat dingin keluar dengan derasnya. Ternyata selama ini prasangka ku benar. Hamdan hanya dipermainkan oleh Yuvia.

***

Di perjalanan pulang, kembali Hamdan dengan tak henti - hentinya ia bercerita tentang Yuvia. Tapi sekarang aku benar - benar tak bisa tenang. Pikiranku masih dipenuhi tentang pembicaraan Yuvia dan Maya di toilet. Maka aku pun memberanikan diri bertanya.

"Hamdan!" Hamdan berhenti bercerita lalu menoleh pada ku.

"Kalau memang kau dan Yuvia sudah pacaran. Kenapa kalian tidak kencan atau apalah? Kenapa dia masih jaga jarak darimu."

Kuperhatikan wajah Hamdan, diam tanpa ekspresi. Sepertinya dia sedang berfikir.

"Entahlah, mungkin dia sedang fokus belajar untuk ujian nasional. Jadi dia tak mau diganggu dulu. Mungkin setelah ujian nanti," katanya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum. Walau dalam hatiku, iba melihat Hamdan yang sama sekali tak tahu apa – apa.

Bagai daun sirih yang dibungkus rapi dalam carano, tak peduli apa yang kau masukkan ke dalam carano itu, orang – orang tetaplah akan menganggapnya sirih. 



Pengirim : crew Lintang Birru
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas